Thursday, September 27, 2007

Aku dan Sang Kondektur

Baru saja ku membanting badan ke jok di dalam bis yang melaju kencang menuju somewhere di tangerang, Sang konduktur sudah menghampiri aku. Menagih ongkos. “Duh gak sabaran banget sih” gerutuku dalam hati. Aku naik dari depan Atrium Senen setelah selesai urusanku di gd Danapala. Aku sendiri sedang bergegas menuju suatu tempat di daerah Cideng. Biasanya aku ke sana dengan mobil, entah dianter suami atau sopirku. Tapi sore menjelang waktu berbuka ini aku harus naik kendaraan umum. Yang aku ingat-ingat, RS TARAKAN sebagai patokan. Sebelum naik, aku sempat melihat ada tulisan Tangerang-Roxy-Grogol. Jadi aku pede aja naik. Logikanya, kalau mo ke Roxy kan musti lewat RS TARAKAN dunks. Sok tauku kumat.

“Waduh gak ada uang kecil nih…” Apa boleh buat, aku terpaksa memberikan selembar uang 50rban yang masih baru itu. Dengan senyum yang aku pasang manis sekali, aku berkata “ Maaf Ya Bang, gak ada uang kecil”
“KEMBALIANNYA NANTI” Ujar sang kenek bis dengan agak kasar meninggalkan aku menuju penumpang di depan ku. “Ga apa-apa Bang, santai aja” aku membalas, sok akrab! Aku yang sedang diserang kantuk yang amat sangat ini segera memejamkan mata. Gak berlangsung lama, karena tepukan sang kenek di bahuku membangunkan aku. Ku lirik, dia sedang menghitung uang kembalianku. Aku liat keluar, oh masih di daerah pejambon. Sambil menunggu, aku pergunakan kesempatan ini untuk bertanya
“Abang, ini nanti lewat RS Tarakan kan??” plus senyum manis.
“Yah mba salah. Ini gak lewat. ya udah gak usah bayar, di depan mba turun aja deh”.
Waduhhhhh kok bisa salah bis sih.
“Oh gapapa bang, saya bayar aja. Trs bagusnya saya turun di mana ya?”
“Ya udah mba ikut aja, ntar turun di Harmoni, nyambung lagi.”
“Ok, makasih ya bang”

Hmmmm kalo gitu, nanti di perapatan Harmoni aku nyambung naik ojeg aja ahhhh. Gak mungkin nyambung naik bis, yang ada harus muter-muter, trs kan pasti penuh. Jam segene! Apalagi kalo bis Reguler, turunnya musti buru-buru gak bisa santai.

Begitu memasuki jalan majapahit, siap-siap turun dong. “Yah lampu ijo…alamat musti turun di depan Duta Merlin deh”, batinku. Eh ternyata nih, pas di perempatannya, masih lampu ijo ini, si abang kondektur tadi tiba2 tereak ke arah Bis di sebelah Kami.
“HOYYYY BERENTI KAUUUUUUU….ADA YANG MAU NAIK” dengan logat khas suku tertentu di daerah sumatra ( tau dong )
Sontak, sopir bus yang dimaksud marah dong, gile lampu HIJAU bo’
“MACAM MANA KAUUUU, HIJAUUUU INIIII”
“KUBILANGGGG BERENTTTIIII KAUUUUUUU. ADA PEREMPUAN CANTIK MAU NAIK BIS MU, CEPATTT KAUU BERHENTIIII”
Trs nih, Sang kenek memberi aba-aba kepadaku untuk siap-siap turun. Busrettttt…..gile si abang. Malu-maluin aja. Pake bilang perempuan cantik segala, bikin GR aja, tapi kalo tereak2 gitu kan jadi hiperbol!
Aku menjawab “Gak papa bang, saya turun depan aja. ini kan lampu merah”
“GAK PAPA. CEPAT KAU TURUN, SINI AKU BANTU”
Hwaaaaaaa…….mobil2 belakang sudah pada klakson. Gile jam 5 nih, jam macet diperapatan harmoni…Aduhhhhh tengsin…

Tau gak sih?? Ini si abang kondektur, menuntun aku turun dari bis, dan membimbing aku sampai naik ke bis disebelah ini. Plus wanti-wanti kepada sopir bus tsb untuk tidak lupa menurunkan aku di depan RS TARAKAN. Aduhh kebayang gak sih...Dan diantara 2 bis ini ada beberapa mobil pribadi yang terpaksa berhenti gara-gara kami lewat. Hwaaaaaa mana jadi pusat perhatian orang di 2 bis tsb, dan mobil-mobil di sekitar kami. Aduhhhh maluuuuuuu.
Sampai diceletukkin, Wah Istri Muda sih, jadi disayang banget. Sampe bikin macet gini”

Bener aja begitu aku naik, lampu nya sudah kembali merah. Jadi tambah kesel kali ya para penumpang dan pengendara mobil. Aduuhhhhhhh malu. Begitu naik, mana bisnya penuh lagi, dan harus berdiri. Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. sambil sesekali, pura-pura sms-am. Saya kan tipe pemalu abissss (hehe…). Untung bentar lagi buka puasa, sabarrr..sabarrrr..(heehe apa hubungannya?)

Tapi sebenarnya aku sendiri agak tertegun lama saat sudah di dalam bis. Gile ya, abang kenek itu baik bgt. Peduli loh. Padahal kan dia gak harus melalukan itu semua. Mulai dari menyetop bis yang harus aku tumpangi, sampai menuntun dan memastikan aku naik dengan aman di bis berikutnya. Padhal tadinya dia agak tidak ramah, cenderung kasar. Tapi kondektur kan juga manusia ya. Begitu dia merasa dihargai (berkat senyum manis manis tadi hehehe dan sedikit sopan santun) dia pun membalas dengan pelayanan yang Xtra. Toh, memang kita semua butuh penghargaan. That’s why we’re called Human! Pengalaman ini walaupun bikin aku malu, tapi sesungguhnya aku belajar banyak di sana. Walo nyesel gak sempet bilang makasih, karena aku udah keburu malu dan panik.

Malu, kesel dikit, senang, terharu, lucu...!

Yulia-Moz5 Salon Muslimah

No comments: