Monday, August 11, 2008

ACTION terus Follow Up dong..


Di rumah ku ini banyak sekali sampel produk kecantikan. Seringkali numpuk. Gak semuanya sempet aku coba sendiri. Untuk ujicoba produk memang masih aku pegang sendiri, belum aku delegasikan.

Jadilah, sample-sample dari supplier banyak yang numpuk aja di rumah.
Masalahnya, yang sering terjadi, orang-orang itu hanya kirim sample aja. Gak pernah menanyakan kelanjutan. Bahkan sering juga sample datang tanpa alamat atau kontak pengirim.
Lha terus kalo kita tertarik gimana?

Seringloh aku tertarik sama produk, yang ternyata setelah dicoba enak juga nih. Tapi gimana ya, karena yang ngirim sample gak pernah kontak-kontak lagi, kita juga susah ngubunginnya. Kalopun mau sedikit usaha cari sana cari sini dan finally kita ketemu juga dengan si pengirim, males ah berbisnis dengan orang yang gak serius. Yang ada ntar malah kita repot sendiri, kalo tiba-tiba usahanya berhenti.

Jadi pastinya, sampel-sampel itu aku coba kalo udah jelas sapa yang ngirim. Apalagi kalo yang ngirim dengan semangat nanyain terus, "Ok kan hasilnya? Mau order berapa dulu nih?"

Aneh. Padahal kan pasti butuh biaya ya? Kenapa gak di Follow Up yah terlanjur udah keluar uang dan tenaga? Atau memang mengirimkannya tanpa afirmasi positif sih, alias negative thinking duluan, Mikirnya : “Aaahh paling-paling juga gak ada hasil”.
Ya bener kejadiannya, gak ada hasil lah.

Atau malah takut bertanya. Takut ditolak, atau takut dikomplain? Lho malah bagus dong, dapet feedback yang nantinya bisa dipake untuk memperbaiki produk/jasa kita.

Coba kalo result oriented, setelah sample dikirim dengan semangat menanyakan, “Gimana udah dicoba kan? oK kan? Pesen 10 aja dulu ya untuk first order mah” Jadi bantu juga prospek kita mengambil keputusan (dengan cepat). Hehe.

Karena seringkali, No Order bukan karena mereka gak suka produknya, tapi semata-mata karena “Gak ditanya sih”

So, Action memang langkah pertama, tapi untuk membuahkan hasil, ya Follow Up dong.

Btw, apa hubungannya Gambar dengan topik pembahasan kita ya??
Yulia-Founder moz5 salon muslimah

Sunday, August 10, 2008

Keseharian : Kampus para orang tua


Pagi ini di Oprah, di hallmark, bicara ttg pentingnya menjelaskan perceraian kepada anak2 kita. Maksudnya, kalau orang tua bercerai, sangat penting untuk menjelaskan kondisi tsb kepada anak-anak. Bukan dengan meninggalkan mereka begitu saja. Karena tanpa adanya penjelasan, anak-anak akan semakin terluka dan parahnya menyalahkan diri mereka sendiri.


Mereka berpikir, penyebab perpisahan keduanya adalah diri mereka. Dan mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang terus memikul beban berat tsb. Oprah mengingatkan bahwa jangan pernah berpikir mereka tidak mengetahui apa-apa. Jangan pernah berpikir mereka tidak memahami apa yang terjadi. NEVER.

Bahkan ditampilkan anak usia 3 tahun, korban dari perceraian orangtuanya, yang sangat kehilangan ibunya dan terus menerus menyalahkan dirinya.

Yang berkesan dari aku pagi ini, satu hal : Jangan pernah berpikir mereka (anak-anak)tidak mengerti, dan mereka tidak merasakan apa-apa.

Hmm. Aku jadi ingat. 4 Hari yang lalu, saat aku terburu2 harus ke salon plumpang. Siang itu aku ada janji meeting jam3. Dekat sih dengan rumahku, tetapi aku tidak mau terlambat datang. Jadi aku bergegas. Kalau biasanya aku selalu pamitan dengan kiya dan melakukan ritual perpisahan. Salim tangan, cium pipi, gendong, ajak jalan2 trs kata-kata perpisahan “mama pergi sayang, baik-baik di rumah ya sayang.. “ Setidaknya butuh 10 menit.

Tapi siang itu, aku buru2. Tiada kecupan, apalagi pelukan. Kiya yangsudah menyodorkan tangannya hanya ku beri senyuman dan kissby. Untung saja, saat aku menutup pintu gerbang rumah, aku sempat menengok. Kiya yang digendong mbak Siti di teras rumah, melepaskan kepergianku dengan deraian air mata dan nangis sesenggukan, tanpa suara!!!
What???? Setengah berlari, aku kembali ke rumah, memeluknya, dan menciumnya, barulah terdengar ledakan tangisnya, HWAAAAAAAWAAAAAAAAWAAAAAAAAA!!!

Seandainya aku tidak menengok kebelakang…
Mungkin Kiya menyimpan kesedihannya hari itu sambil terus berpikir,
“Mama gak sayang sama aku, mama gak butuh aku, Aku gak penting untuk Mama…”

Terlalu berlebihan?

Engga juga. Karena faktanya, anak-anak kita, sekecil apapun mereka, ternyata mereka adalah mahluk paling sensitif di dunia. Dan, mereka memang bukan orang dewasa. Kenyataanya, kita seringkali memperlakukan mereka seolah-olah mereka adalah orang dewasa yang terjebak dalam tubuh mini mereka.
Kita lupa bahwa mereka adalah ANAK-ANAK. Mereka anak-anak yang (memandang) menjalani kehidupan ini dengan begitu sederhana. Dan karena kehidupannya adalah dunia kecilnya bersama kita, orangtuanya, maka, sekecil apapun tindakan orang tua, tentunya sangat mempengaruhi perasaan dan cara berpikir mereka. Juga perkembangan mereka.

Diperjalanan menuju salon, aku jadi malu hati sendiri. Segitu buru-burunya sampai merasa tidak ada waktu melakukan ritual perpisahan hanya karena aku berpikir, “Alaaah Cuma peluk cium ini, setiap hari biasanya juga sering aku lakukan kok, lagian kiya juga pasti gak ngeh”

Aku juga langsung teringat pertanyaan dari caca di suatu malam yang sudah lama berselang
“Mama, kalau nemenin aku bobo pasti sambil baca buku. Sebenernya, mama baca buku sambil nemenin aku bobo, atau nemenin aku bobo sambil baca buku???”

Bingung gak?

Dengan pertanyaannya, caca berusaha mencari tahu, mana yang lebih penting, dirinya atau buku2 yang selalu aku baca saat menemani dia tertidur?

Bagi kita orang dewasa (dan orang tua) Tentu jawabannya jelas sekali. Tetapi bagi mereka anak-anak itu?? (Faktanya) Mereka senantiasa mencari tahu, sebesar apa cinta dan kasih kita kepada mereka. Dan mereka butuh mendengar langsung kata-kata penguatan dan ekspresi kasih sayang kita, Orang Tuanya, secara verbal juga. Bukan dengan perbuatan saja.


Just Sharing,

Yulia- mama Caca&Kiya

Tuesday, August 5, 2008

Oleh-oleh dari Franchise International Malaysia 2008

Yulia, moz5 salon muslimah Dengan Pak Burang, IFBM

Week End minggu lalu, tepatnya tgl 2-3 agt 2008 aku berkesempatan mengunjungi KL lagi. Wah, kesempatan yang luar biasa. Berawal dari ajakan Pak Burang dan Pak Roy , IFBM, untuk ikut rombongan ke sana sebagai tamu mengunjungi International Franchise Malaysia 2008 (1-3 August 2008). Awalnya sempat kutolak, karena ada beberapa agenda penting, termasuk jadwal therapy kiya dengan dr LUH.

Tetapi…2 hari menjelang hari H, tiba-tiba ada telpon dari Pak Burang yang mengkonfimasikan apa benar tidak ikutan. Karena, Cik Fauzi dari PNS sudah membuat janji dengan beberapa pengusaha Malaysia yang tertarik dengan bisnis moz5.

Waduh.

Timbang sana timbang sini, akhirnya aku memutuskan berangkat. Ditemani suami sih. Awalnya, aku berkeras berangkat sendiri aja, tetapi sepertinya Mr A N gak tega kali ya, istrinya berangkat sendirian. Kalau diculik gimana?? Atau kalo di gebukin aparat sana karena disangka Tenaga Ilegal??Hehe…

Aku pikir, kesempatan jarang-jarang datang dua kali. Aku punya dreams, moz5 go worldwide. Dan mungkin sekali ini adalah jalan menuju kesana. Don’t Know. Tapi harusnya sih begitu.

So, last minutes aku putuskan, KL here We Come!!

Cari tiket online, booking hotel online juga. SIAP!! Jumat malam aku dan Mr AN berangkat juga ke KL. Selain urusan moz5, ada satu hal yang membuat aku sangat sangat bersemangat ke sana. Aku bisa minum teh tarik sepuasnya. I LUV Teh TARIK.

…dan semua berjalan indah seperti yang aku harapkan. Di sana kita ketemu orang-orang luar biasa, dengan mimpi luar biasa pula.

Di mulai hari sabtu pagi mengikuti sesi Pak Haryadi Hartawan, Owner Odiva (satugroup dengan DISC TARRA dan Goiza). Sharing beliau pada workshop franchising, bener2 luar biasa. Bagaimana passion beliau terhadap Entertainment. No wonder, Odiva dan Disc TARRA bisa sukses di Indonesia. Materi yang bagus dikemas dengan cara pembawaan yang menarik, membuat sessi beliau menjadi luar biasa berkesan. Gak malu-maluin orang Indonesia deh. Dilanjutkan dengan sharing dari Celcom Malaysia yang juga bagus banget, hanya saja cara membawakannya tidak semenarik Mr haryadi.

Lanjut ke atas melihat Franchise Exponya. Dibandingkan dengan Franchise Expo di JCC bulan j uni lalu Jauh lah kalo dari segi jumlah peserta dan pengunjung. Mungkin hanya 1/3-nya ya.Tapi aku ketemu dengan Mr Hendi Babarafi yang buka stand di sana loh. Hebat deh. Aku yakin pasti akan sukses deh sekelas BabaRafi mah di malaysia. Sukses ya!

Siangnya lanjut ke acara Tour de Mall. Dikoordinir sama bu Sofia dari Malaysia Franchise Assosiation, rombongan dari Indonesia ini diajak muter2 mal di sana. Disambut oleh PR masing-masing mall dan menerima penjelasan panjang lebar ttg mal tsb. Yah profile pengunjung, tenants, sewa, fasilitas dll. Jadi, maksute kalo kita nanti mau buka outlet disana udah ada gambaran gitu loh.

Rutenya aktifitas hari ini

1. Ngumpul di PWTC (Putra WOrl Trade Center) setelah maksi bareng di De mall, persis di sebrang PWTC.

2. Pavillion, UP CLASS Shopping Center. Di sini di lantai paling atasnya, ada lantai khusus perempuan loh. ISinya yah gak jauh-jauh dari spa, salon, slimming center, asik deh. Di Food Area yang besar banget itu, ada JCo!!

3. Berjaya Square dikawasan bukit bintang, untuk MIDDLE CLASS (kalo di sini ada mini DUFAN di dalamnya, hehe). Jumlah anggota rombongan sudah semakin merosot. Hehe. Udah pada ngilang, kabur untuk urusan masing-masing. Melihat semangat dari para panitia yang begitu antusias ngurusin kita dan memastikan semua berjalan lancar, aku jadi gak tega dong kalo gak ikutan semangat. Jadi aku harus berpikir keras mengajukan pertanyaan2 supaya kelihatan semangat juga hehe. Padahal, terus terang, aku ngantuk dan capek bgt. Apalagi penjelasan dalam bahas inggris dan logat malay hanya bisa aku tangkap 30% doang hehe.

4. Dinner di Salona Bistro. Udah capek muter2 mall dan sedikit berbelanja hehe, akhirnya terakhir di Salona ini. Wah asik tempatnya. Makanannya juga enak-enak. Buffet bo, jadi bisa puasss. Berhubung kita bak tamu VIP kenegaraan, jadi kedatangan kita pun disambut iringan music melayu. Dan selama acara dinner juga ada lagu-lagu dan tarian melayu. Pada sessi ini juga aku bisa puas ngobrol2 sama hostnya PNS. Aku juga manfaatin waktu dengan diskusi dengan Mr Sahrul yang mimpin anak perusahaan dibawah PNS, My Franchise. Kalau mau masuk M'sia yah harus lewat beliau inilah. Aku banyak bertanya seputar gimana sih kiat kalau mau sukses berbisnis franchise di m'sia.

Btw, PNS ini salah satu divisi dalam kementrian Negara (spt DepDag or kementrian UKM kalo di indonesia ya) yang mengurusi FRANCHISE. Mereka juga memiliki Franchise Service Center berlokasi di PWTC. Di FSC ini kita bisa mencari info seputar franchise, tersedia beberapa computer lengkap dengan internet. Ada mini librarynya, ada ruangan meeting (yang bisa kita gunakan untuk presentasi or training even meeting dengan mitra kita!!) Luar biasa bgt. Kalo aja di Indonesia kita punya, wah gak perlu sewa2 ruangan kalo mo bikin business seminar hehe

Di salah satu ruangan Franchise Service Centre

Sedangkan hari kedua, pagi-pagi setelah sarapan, kami kembali ke PWTC untuk mengikuti speech dari Mahathir Muhammad yang memang luar biasa pengetahuan dan sensenya pada bisnis. Apalagi pada sesi Tanya jawab. Pertanyaan2 yang agak susah, bisa dijawab dengan mudah dan baik. Tidak ada kesan diplomatisnya tuh. Dan yang penting jawaban dan pertanyaannya sangat nyambung. Gak seperti pejabat2 sini, kalo ditanya apa seringnya gak nyambung jawabannya. OOpss. gak semua dong ya.

Setelah itu, kabur bentar ke KLCC, untuk sedikit belanja hehe. Bertiga sama Bu Itta Supit (Ketum Perhimpunan WALI) dan Bu Evie (Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk). Sorenya, aku diantar Naza dari PNS ketemu dengan Cik Fauzi di de Curve. Mengunjungi Forrest Secret (spt Bodyshop gitu lo). Sempat juga membicarakan peluang kerjasama antara Forrest Secret dan moz5 salon muslimah. Terakhir, merupakan bagian penting yang menjadi agenda utama, aku presentasi dengan bbrp pengusaha wanita Malaysia. Acara ini berkembang menjadi diskusi yang berlangsung hangat dan antusiasme mereka terhadap moz5.

Di Outlet Forrest Secret, de Curve

all about moz5 salon muslimah : Dreams and Passions

Minggu malam, pulang ke indo. Jakarta Here I COME!!! Kali ini kembali dengan penuh semangat, penuh PASSION, dan NEW DREAMS!!

Karena Pesawat Air Asia 21:30-nya Delay ke jam 11.45, aku jadi punya banyak waktu menamatkan buku yang sengaja aku bawa, "Budha" karangan Deepak Chopra (Hayoo ada yang udah baca juga gak?)

Banyak magic moment, banyak sekali saat-saat yang sangat berkesan dan menyentuh. Business memang untuk kehidupan kini dan nanti. Business juga membutuhkan dreams dan passion untuk bisa bertumbung dan berkembang (biak).

Ada pertanyaan yang menyentuh dari peserta workshop franchising yang diajukan ke Mr Haryadi. Yaitu, apa kelebihan indonesia yang tidak dimiliki malaysia dan sebaliknya. Dijawab langsung dengan luar biasa.

"Di indonesia, semua serba sulit. Jadi kita terbiasa untuk kerja keras, berjuang, kalau tidak hidup kita akan berakhir di jalanan. Itu yang membuat pengusaha indonesia lebih tangguh, kreatif dan banyak akal. Sementara di Malaysia, semua relatif lebih enak. Pemerintah sangat melindungi rakyatnya. Pemerintah juga mendukung pengusaha kecil. Itu membuat hidup di malaysia lebih nyaman. Itu kelebihannya, akan tetapi membuat Orang malaysia jadi kurang tangguh, kreatif dibandingkan orang indonesia."

Kalau kelebihan masing-masing dikolaborasikan, hasilnya akan sangat indah. Maksute, kalao pengusaha indonesia dikasih kesempatan mengembangkan bisnisnya di malaysia dengan fasilitas dan dukungan dari pemerintah malaysia, wuihhhh hasilnya kaya apa tuh?? masih banyak lah pertanyaan-pertanyaan lainnya yang memang luar biasa. termasuk sesi dari mahathir Muhammad. Pokoknya aku belajar banyak lah.

Btw, aku gak bisa sering2 minum teh tarik pada kesempatan ke KL kali ini. karena kebanyakan makan di resto atau kafe. Walo sempet juga sih makan di Nasi Kandar, kan kalo di tempat2 makan india gitu, teh tariknya mantappp banget. Buatan Mamak istilahya, untuk teh tarik yang kita teukan di warung makan keturunan india di sana.

Last, Tulus dari dalam hati aku mau say Tks to pak Burang dan Pak Roy yang sudah mengajak dan membimbing sejauh ini, pihak PNS (Pak Fauzi, Pak Sahrul, Miss Naza, dll atas hospitality-nya), Bu Itta dan Bu Evie untuk berbagi kenangan dan kebersamaan yang sangat FUN,

dan kepada suamiku Mr A N yang sudah merelakan waktu menemani, mengepak barang, dan memastikan semua berjalan lancar. Asik loh kalo ada Mr AN aku terima beres deh, mulai dari tiket, hotel, semua dia urus. Tas, passport dan dompet juga dia yang pegang, kalo mo belanja tinggal tunjuk , mo makan apa tinggal sebut, beres deh. Apa jadinya aku yang ceroboh dan pelupa ini kalo berangkat sendiri ya??hehe

Well, sekarang Semangat!!

Yulia Astuti- founder moz5 salon muslimah

Wednesday, July 23, 2008

KARMA


Pada suatu senja yang hmm lumayan indah. (hehe romantis amat kalimatnya) Di sudut sebuah kafe, aku duduk menanti temanku. Seperti biasa, temenku ini ngaret. Padahal katanya dia yang mau curhat.

Kenapa ya, orang sering banget ngaret. kalo ON TIME kayanya kampungan gitu loh! Terserah deh, biarpun temenku ini selalu ngaret, dan aku tahu banget itu, tapi yang penting kita sendiri tetap ONTIME kan?

Di sebelahku, ada rombongan ibu-ibu asik berceloteh. Hmm acara arisan bulanan kali ya?Aku sendiri memilih melanjutkan membaca buku. Sambil sesekali nyeruput coffeelatte dan Choco Cake. Hmm enak!

Gak lama.
“ADUHHH MAAF YA JENG-JENG, AKYUUU TELAT NIH. ADUHHH SEBELL DEH” ada suara ibu-ibu setengah baya. Modis, cantik, dan Heboh.
“EHH AKU KAN PARKIR MOBIL DI RATUPLAZA, trs kesini naik Ojeg!!!!”

*aduh, kenapa naik ojeg ya bu? Kan dari Ratu Plaza ke Plasa Senayan sini tinggal jalan kaki,lewat pintu kecil dibelakang sini, deket banget lagi. Kalo naik ojeg emang jadi jauh, kan musti muter dulu lewat senayan” Duh, aku kok ikut-ikutan nyautin sih? Dalam hati sih....

“eh tau gak yang nyebelin apa?? Masa si tukang ojeg sialan itu ngotot maunya 10 rb, padahal kan ya ampun deket bgt!”

“Ih amit-amit deh gw kasih ceban, gw iyain aja dulu. Pas turun nih, gw kasih aja Goceng (5000)”
“Emangnya gw bego apa, ga tau tarif ojeg! Sykurin tuh orang! Dia marah-marah, gw tambah ngamuk-ngamuk! Wah ribut deh, tapi yang penting nih gw akhirnya Menang!!!”
Panjang lebar si tante cantik itu ngoceh. Aku sendiri otomatis gak konsen membaca dong. Bukan niat mo nguping sih, tapi emang terdengar jelas sih. Kulirik, beberapa tamu juga memandang si ibu itu bercerita. Sementara temen-temennya ikut-ikutan menyoraki si tante ini.

Hufff! Segitu puasnya yah “menang” sama orang kecil kaya si tukang ojeg itu. Kok kayanya bisa “ngambil” uangnya si abang 5 rb kayanya suatu prestasi. Iya dong namanya ngambil uang orang, karena kan udah menjadi hak si abang. Lah wong awalnya harga 10rb sudah disepakati.
Ironis ya. Kita suka keukeuh nawarrrrr semurah mungkin sama para pedagang, tukang ojeg, tukang, dll. Bahkan 500 perak juga kalo bisa ditawar mah, hayuuuukkk. Ada suatu kegembiraan kecil, kalo bisa menekan harga serendah-rendahnya.

Hehe, aku dulu suka ikutan bazaar di perkantoran-perkantoran. Waduh, ibu-ibu cantik dan modis itu kalo nawar harga gila-gilaan banget loh. Pernah suatu hari kalung dan gelang batu aku ditawar 10rb 3!!! Hiks sampe pengen nangis tuh.

Balik lagi ke topik awal. Sementara kita menawar dengan menekan harga abis-abisan, sering kali kita malah menghambur-hamburkan uang dalam bentuk yang berbeda . Malah pernah seperti ketipu.

Temenku pernah ada yang sharing, dia naik bajaj ke tanah abang nawar gila-gilaan deh. Sama spt si tante udah sepakat dari Sabang-ke Blok A 5rb. eh waktu turun dia masih keukeuh mau bayar 3rb aja! Singkat kata setelah berbelanja baju ini itu, pas mau pulang dia liat baju yang sama yang dia beli kodian di toko pojok lt 1 malah di deket lobby harganya jauh lebih murah. Dia itung-itung, seleisih harganya jadi 200rb! Karena beda 1o rb per pcs. Sedang dia beli 1 kodi! Katanya “buset gw “untung” 2 rb dari tukang bajaj, malah sekarang buntung 200rb!”

Atau pernah juga melihat ibu-ibu nawar sesisir pisang kepok dari harga 7rb nawar abis ke 3rb. Si penjual yang adalah mbok-mbok tua, cuman kasih muka pasrah. Akhirnya si ibu itu hanya minta tambahin 500rp aja buat untung dia. Ckcckkckk! Pisang kepok bo, 1 sisir!!

Emang sih prinsip tawar menawar itu sesuatu yang lumrah. Selagi dapet harga yang lebih murah kenapa engga? Toh dalam bisnis juga biasa lah. Istilah kerennya negosiasi harga.

Tapi, plis deh, liat-liat dulu kali ya bo dengan siapa kita tawar menawar. Kalo di pasar, sama
tukang ojeg, tukang bajaj, mbok ya sedikit kendor gitu loh. Yang proporsional aja lah. Kalau harganya gak masuk di akal okelah. Tapi kalo masih taraf wajar, Sabang-tn abang, 5rb, yah wajar dong. Lha wong 7000 juga masih pantes. Masa 3rb sih? Hari gini??

Apalagi kaya si tante cantik di kafe itu, masa udah sepakat harga 10rb, tiba-tiba pada saat pembayaran malah ngotot 5rb? Waduh kacau banget. Kalau di dalam bisnis, wah bisa masuk BlackList. Syukur2 kalo gak dituntut dipengadilan hihi!

Malah alangkah baiknya, kalo kita mau memberi bonus sekali-sekali. Dari harga 7 rb, kita kasih bonus aja 3 rb, jadi kita bayar 10rb. Toh cuman 3 rb. Bayangkan aja harga mizone (kesukaan ku) udah 5rban kalo beli di warung pinggir jalan. Sama dengan harga 1 teh botol juga.

Sesuatu yang kecil bisa sangat berarti buat orang lain. Bukan cuman 3 ribunya aja, tapi rasa diperhatikan, rasa ada orang yang mau memberi “hadiah” kepada kita, itu loh yang mungkin sekali sangat berarti bagi mereka.

Apalagi toh di dunia ini ada yang namanya karma. (Setidaknya, aku termasuk orang yang percaya karma) Seperti kasus temanku tadi, gara-gara merampas 2rb dari tukang bajaj, eh malah tekor 200rb.
Walau, tentunya kita berbuat baik kepada orang lain harusnya jangan karena karmanya dong. Tulus dalam hati. Sekedar berbagi sesuatu yang (mungkin) menjadi hak orang lain.

Yulia-Founder moz5 salon muslimah
*gambar di ambil dari www.smallbiztechnology.com

Tuesday, July 8, 2008

"Belum Bayar Ongkos, Pak!"

Di dalam angkutan metromini, sekitar jam 4 sore.
"Uff, kenapa sih harus duduk di bangku sebelah ini?"
Aku hampir saja mengomel dalam hati (ih kok hampir sih, ini mah udah tahap ngomel ). Gimana engga, sementara di banggu depan dan belakang masih banyak yang kosong, knp juga bapak ini harus memilih duduk disampingku. Otomatis aku yang sedang asik membaca buku, terpaksa berdiri memberi jalan agar si bapak bisa lewat. Maklum di dalam metromini bo’ Apalagi, aku maupun si bapak, sama-sama membawa tas besar, jadi agak ribet.

Setelah sama-sama duduk, aku udah gak nafsu membaca. Malahan asik mengamati bapak tua yang gayanya cukup perlente (kemeja putih rapih, celana hitam, dan sepatu mengkilap). Kulit bersih, walaupun sudah keriput sana sini, tetap keliatan rapih. Usia sekitar 65thn.
Waktu melewati Mal Arta Gading, sekejap metromini ini jadi penuh. Setidaknya ada 6 orang yang berdiri.

Herannya, waktu pak kenek menagih ongkos, Ya Ampun, kok bapak ini pura-pura gak tau ya? Pura-pura udah bayar gitu loh. Padahal suer aku yakin beliau belum bayar.

Tuh kan, gak lama, si bapak kenek balik lagi, meyodorkan tangannya. Menagih ongkos.
Ehm, aku coba berdehem. Eh si bapak cuek, malahan pura-pura tidur.
Waduh!
Yang pertama aku lakukan, berpikir keras. Gimana ya negurnya? Ntar kalo aku nanya, pak udah bayar ongkos belum? Kok aku kayanya usil bgt.
Iya, kalo dijawab Belum, emang kenapa?” Aku kan tinggal balas menjawab “ Ya bayar dong!”
Nah, Gimana kalo dijawab “udah”?

Lagian, kok aku malah sok bergaya asisten kenek ya?
Ah bodo amat. Aku coba melanjutkan membaca. Tapi tetep gak bisa!
Ku coba melempar pandangan. Nah, saat aku memandang raut wajah pak kenek yang sedang berdiri bergelantungan di depan pintu, kok aku melihat seraut wajah yang penuh kelelahan. Di hari yang terik kaya gini, harus pasang badan dan memforsir kerongkongan, wuihhhhh.

Hmm. Rp 2500,tariff metromini, ini mungkin gak seberapa untuk kita, tapi untuk beliau? Untuk keluarganya?
Apalagi si bpk kenek ini juga melirik curiga berkali-kali ke arah sampingku. Nah, berarti emang belum bayar kan?

Di saat aku mau menegur baik-baik si bapak disebelahku ini, eh beliau yang tadinya pura-pura tidur malahan sekarang udah pake kacamata hitam dan mulai tengok sana sini. Wah udah seger buger tuh. Cepet amat barusan kayanya tertidur lelap.

Wah buru-buru kucolek pak kenek yang kebetulan lewat, sambil nyeletuk, “Pak, bapak ini belum bayar ongkos! “ Sambil nunjuk si bapak. Kaget dong dia.
Tapi ternyata reaksinya “oh belum bayar? Bukannya udah?”
Belum pak!” segera kujawab. Singkat. Pak kenekpun manggut-manggut.

“Nih Ongkosnya. Masa saya harus bayar dua kali??” Sambil melotot si bapak menyodorkan tangannya dengan keras ke arah pak kenek. Kasar.

Sepertinya si bapak sewot,hehe.
Yhee!
Fyuh, akhirnya.

Buatku, ada dua hal penting di sini.
1. Aku tidak membiarkan kecurangan terjadi di depan mataku
2. Aku bisa melanjutkan membaca dengan tenang, hehe

Yulia-Founder moz5 salon muslimah

Monday, July 7, 2008

"Ngalah"


Waktu ke palembang 2 minggu lalu, aku memboyong anak-anak dan ibuku, serta para pengasuh. Adikku, linda juga melakukan hal yang sama. Akhirnya, jadilah perjalanan bisnis kali ini, merangkap liburan bareng. Banyak kejadian lucu saat mereka ngumpul dan tidur bersama. Simak salah satunya.

Anakku kiya, 2.5 thn ,berebut mainan dengan ponakanku Idan, 4 thn. Beberapa detik kemudian, meledaklah tangisan Idan.

Idan : “BUNDAAAAAAAAAAAA...dede kiyaaaaaa!”
Bunda Idan : “ Yah Idan kasih pinjem dong mainannya, dede Kiya kan mau main juga”
Idan : “ Gak mau Bunda...”
Bunda Idan : “ Yaaaaa Idan sih suka gak mau ngalah anaknya . Ngalah dong sama dede-nya“
Idan : Sambil sesunggukan dan suara pelan, “ Bunda, Idan 'kan...gak suka kalah...”

Spontan aku tertawa. Walau kemudian aku menghentikan tawaku. Ops, seperti ada yang nyetrum.

Hm menarik juga ya. Kita seringkali mengajarkan anak-anak dengan kata-kata yang pastinya belum sanggup mereka cerna. Bahkan Ambiguitas.

Contohnya, kata “Ngalah” . Bagaimana anak seperti idan mengerti konsep ngalah. Tentunya, dia sudah mengerti Games, Tentang Kalah dan menang dalam permainan. Tapi konsep “Ngalah”?
Padahal dalam hal ini, yang kita minta, atau setidaknya yang kita ajarkan sebagai orang tua, adalah rasa pengertian. Juga rasa mau berbagi.
Misal, Berbagi mainan. Berusaha meminta anak kita mengerti bahwa adik kecil belum mengerti mana yang mainannya mana yang bukan miliknya. Bukankah luar biasa kalau anak kita bisa melakukannya? Dan itu adalah sikap PEMENANG? Lalu kenapa istilahnya “Ngalah” ya??
Kesannya, kalau anak kita ini mau meminjamkan mainannya, berarti dia KALAH?? Kan kalimat yang sering dipakai “ayo dong Kaka/Abang Ngalah sama adiknya ya”.

Nah, nah, gak heran kalo Si Abang Idan ini gak mau minjemin mainannya, spt yang diucapkan Idan dengan lugu “ Bunda, Idan kan...gak suka kalah...”

Wah, sejak itu aku gak pernah lagi pake kata “Ngalah”

Yulia- Mama Caca & Kiya

Tentang Diri Kita

Pada suatu hari, tepat pada jeda persidangan, Anna, gadis kecil itu, sempat berpikir spt ini : "Kadang-kadang mengenai diri kita, tidak melulu tentang apa-apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang sanggup kita lakukan pada saat-saat yang tidak kita duga"! Anna sendiri adalah gadis 13 thn, tokoh utama dalam novel Karya Jodi Picoult : My Sister Keeper. (ada yang suka novel-novelnya gak?)

Hmm pemikiran yang menarik. Aku berusaha keras mengerti kalimat tersebut. Karena menurutku, apa bedanya, antara apa yang kita lakukan dengan apa yang sanggup kita lakukan?

Oho! ternyata memang berbeda. Yang kita lakukan, Sebenernya belum tentu apa yang SANGGUP kita lakukan.

Begini. Terutama pada saat-saat yang tak terduga sama sekali, saat-saat buruk, kadang-kadang yang kita lakukan merupakan reaksi spontan atas kondisi saat itu. Yang seringkali, hal-hal yang kita sesali kemudian. BUKAN TENTANG APA YANG SEHARUSNYA, atau APA YANG SANGGUP KITA LAKUKAN.

Apakah kita akan marah? Kita akan menyalahkan orang lain, menyalahkan kondisi, menyalahkan lingkungan? Atau bahkan marah pada orang lain, pada pihak lain yang seringnya tidak ada kaitan sama sekali. Sekedar melepas kemarahan atau kebingungan kita.

Apakah kita sanggup untuk tetap tenang, untuk tetap sabar, tetap jernih. Tidak menyalahkan, tidak membenarkan diri sendiri, atau tidak berasumsi. Berusaha untuk memahami kondisi dari berbagai cara pandang. Berusaha mencari jalan keluar yang menguntungkan untuk semua pihak.

Dalam keseharian, tentunya banyak kejadian yang tidak pernah kita duga. Yang seringkali begitu mengejutkan.

Seperti dalam berbisnis. Banyak kejadian yang tidak kita harapkan tiba-tiba terjadi. Ditipu supplier, dihianati parner, dll. Apa yang kita lakukan? Apa pula yang Sanggup Kita lakukan.

Kalau kita mempelajari kehidupan dari para tokoh dunia , spt Paul Getty, Henri Ford, Thomas Watson, Soichiro Honda, dan banyak lagi. Apa-apa yang mereka sanggup lakukan pada saat-saat yang mengejutkan, tentunya kita akan bisa mengerti, mengapa mereka bisa begitu sukses.

AHA! Pada akhirnya, aku bisa mengerti pemikiran Anna, gadis kecil yang membuat kejutan dengan menuntut orang tuanya sendiri. Menuntut hak atas kebebasan medis. Seorang anak 13 tahun menuntut orang tuanya di pengadilan. Saat itulah dia juga menarik banyak hal penting ttg kehidupan, bahwa hidup penuh kejutan.

Hmm memang seringnya, kejutan-kejutan itu jutru datang dari orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Dan apa yang kita sanggup lakukan itulah yang menunjukkan tentang diri kita sendiri.

Yulia- founder moz5 salon muslimah